Babi itu Buta! – Bagian 1

Ya, dalam bahasa Jepang, babi itu buta! Kata buta inilah salah satu dari beberapa kata yang saya hapal saat melakukan karya wisata ke Jepang. Saya tidak bisa berbahasa Jepang, jadi untuk memperlancar jalan-jalan tahu beberapa kata tentunya perlu. Kata lain yang saya hapal adalah tabe yang artinya makan. Teman saya yang orang Jepang bilang, saya menghapal kata yang tepat untuk bisa survive di Jepang.

Waktu yang singkat disana membuat saya memutuskan untuk mencoba makanan-makanan lokal dengan bahan babi setiap harinya. Paling nggak, satu kali dalam satu hari. Cuma tentunya saat makan suka hanyut sampai lupa untuk memberikan laporan.

Berikut ini adalah bagian 1 dari entah berapa tulisan singkat soal pengalaman saya makan babi di Jepang.

Buta shabu curry (Thin-sliced pork curry)

Ini nasi kari babi… belom pernah seumur-umur saya makan yang namanya kari tapi babi😀 Diajak untuk makan siang sama temen-temen, yang sebenernya sudah sangat-sangat telat waktu itu, ditambah dengan hujan yang mulai turun. Waktu itu seingat saya sore2 yang sendu di Kyoto. Jadi makan yang panas-panas + pedas tentunya cocok. Rumah makan khusus kari Jepang bernama Curry House CoCo Ichibanya yang saya kunjungi ini terlihat modern, dengan warna-warni dan grafis menarik khas Jepang. Desain menunya kaya newsletter. (Sayang ngga saya poto! Lupa hehehe).

Makan kari di Jepang kita bisa memesan pedasnya sesuai selera kita. Kalau di sana istilahnya ada level kepedasannya. Level 1-10, level 1 paling ngga pedas sampai level 10 yang entah bagai neraka mungkin. Saya sendiri waktu pesan level 5 ngga boleh sama mbak2nya. Disaranin level 4 aja. Ya sudah akhirnya pesan buta shabu curry level 4. Oya, buta shabu curry ini berupa nasi dengan kari babi dimana daging babi dipotong tipis-tipis. Harga satu porsi buta shabu curry ini sendiri sekitar 60ribuan rupiah seingat saya. Memang susah cari harga yang bersahabat di sana😀

Setelah menunggu sambil ngobrol2 dan memandangi hujan dari jendela, nasi kari babi itu datang.

Buta shabu curry

Porsinya ternyata lebih besar dari perkiraan, cuma nggak masalah sih buat saya. Dihidangkan di atas piring (tentunyaa) penyajiannya dibagi 2, satu sisi setengah lingkaran untuk nasi, setengahnya lagi si kari babi. Aromanya mirip kari India, cuma nggak terlalu kuat. Bumbu kari kental berwarna coklat, dan kalo menurut saya jadi seperti saus yang sangat banyak diatas nasi. Setelah saya coba, ternyata rasa rempah-rempahnya nggak sekuat kari India walaupun ‘rasa kari’nya tetap ada. (Apa coba? Hehehe). Awalnya agak ganjil juga makan kari dengan daging babi, tapi lama2 rasanya terbiasa. Dan yang level 4 pedasnya ternyata memang cukup pedas. Cocok buat sore2 hujan. Jadi bertanya-tanya kalo yg level 10 kaya apa ya?

One Response

  1. Buta o tabe koto ga suki da you?
    haha, sisa2 peninggalan bahasa Jepang saat kuliah.

    saya selalu suka kari Jepang. rasanya nggak terlalu ‘India’ *apa sih*.

    Ditunggu ya, kelanjutan ceritanya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: