Archive for the ‘makanan’ Category

Mengejar Babi
April 14, 2011

Oink! Udah lama banget ga posting yaaa…. Emang lagi jarang makan babi sih, sekalinya makan yang pernah diposting sebelumnya jadi yaaaa…

Aniway! Postingan kali ini lumayan seru karena melibatkan babi-babi dari negeri sebrang alias dari Macau dan Hongkong. Sebetulnya perjalanan lanjut ke China (Shenzen) tapi disana nggak sempat makan babi karena… nanti saya ceritain.

Setelah makan malam non babi, sarapan pagi di Macau saya berpesta pora 🙂

Sandwich Bacon

Sarapan pagi dibuka dengan Sandwich Bacon. Yang ternyata setelah selesai dimakan, saya masih lapar! Lirik tetangga yang lagi makan Bacon pake Telor enak juga nih kayaknya. Maka saya menebalkan muka dan pesan lagi :D. Malu-maluin aja memang.

Bacon !

Kalo Sandwich Bacon itu rasanya biasa aja, maka Bacon yang satu ini rasanya luar biasa. Beneran ! Jadi selain 2 butir Telor setengah matang, ada Daging yang dikasih bumbu kari gitu. Agak jarang sih disini ya daging Babi pake bumbu Kari. Tapi ini seriusan enak.

Makan pagi pertama saya di Macau itu, ditambah dengan segelas Juice Apple, maka berjumlah 57 MOP atau sekitaran 57.000 rupiah. Agak mahal untuk ukuran sarapan dan mengingat itu hari pertama dalam acara jalan-jalan selama 8 hari. Tapi enak, jadi hepi-hepi aja :).

Ngintip sarapan tetangga sebentar, dia pesen Mie Babi. Katanya sih enak 🙂

Mie Babi 🙂

Siang harinya, saya makan siang di mall baru yang namanya City of Dreams, posisinya di seberang Venetian Mall. Nama Food Courtnya Food Paradise!, sama kayak blog sebelah 🙂

Disana saya makan Pork Knuckle. Ya ampun enaknya :D.

Pork Knuckle

Jadi Pork Knuckle nya dimakan pake Mie, kuahnya coklat dan agak manis. Sambelnya berminyak dan enak. Sampe nyaris berantem sama yang jual karena saya minta lebih, hehe. Harganya ga berapa mahal, sekitar 23 MOP atau 23.000 rupiah.

Di Macau hampir dimana-mana ada yang namanya Pork Chop Bun. Alias Burger berisi daging Babi tapi bukan daging Burger (lah bingung). Pokoknya enak deh 😀

Pork Chop Bun !

Di Hongkong, sarapan pagi pertama saya ini ni,

Bai Kut Fan

Cie udah tau namanya segala… hhihihi… ini nasi pake Daging Bakut, dan Ceker Ayam. Enak banget, dan pas bayar tambah kerasa enaknya, karena harganya cuma 7 HKD alias 7000 rupiah ajaaa…

Malam hari, di area Causeway Bay Hongkong saya nemu ini ;

Wuiiiih ini enak bener lho. Jadi si enci itu jualan juga goreng2an selain basah2an serupa sekba ini. Ada potongan Usus, Paru, Dorokdok, dll. Tapi disajiinnya kering nggak pake kuah sih. Tapi ada acar cengeknya aku sukaaaa 🙂

Nah setelah hari kesekian, saya mulai bosan makan Babi terus-terusan dan udah ga bisa kayaknya. Akhirnya pagi pagi saya memutuskan makan McD aja yang general dan pasti ga bikin eneg.

Hongkong's McD

daaaaaaaan ternyata McD nya Babi juga, mwahahah….. dan ga gitu enak juga sih. Ga fresh gitu dan rotinya bapuk. Oh well, susah memang cari makanan yang non Babi disana. Gimana enggak, nemu Mie Instannya Babi pula, dan beneran ada daging Babi kering gitu di dalemnya.

Mie Instannya

Mie nya enak sih, mirip2 Sanpachi! hehehe… cuma kurang pedes aja.

Jadi gitu, pulang dari sana dengan tekad nggak mau makan Babi selama 2 taun eh 2 bulan eh 2 minggu deh.

Eh tapi udah sebulan nih nggak makan Babi. Ada yang mau ngajak ?

Advertisements

Rumah Makan Gong Li
December 14, 2010

Sebelumnya saya belum pernah denger nama rumah makan ini. Sampai suatu hari saya makan di Pomodoro Jl. Bahureksa, dan pas bayar dapet brosur dengan tulisan 100% Tidak Halal. Hmm….. harus dicoba nih 😀

Tempatnya ada di Jl. Wira Angun Angun no 36. Carinya ngga susah kok sekitaran belakang Toko Buah Total, deket2 sama tempat beli DVD, Movie Room. Perhatikan nomer rumahnya, cari nomer 36 karena dari luar ngga ada namanya. Jadi cuma rumah biasa aja, nggak keliatan ada rumah makan.

Pilihan makanannya ga berapa banyak. Hari itu tadinya mau coba makan Tinorangsak Babi tapi ternyata belum ada, jadi pesen Kong Ba. Katanya Kong Ba ini mirip-mirip Babi Kecap, dan begini ini penampakannya ;

Kong Ba

Di menu ada yang namanya Tahu Goreng Babi. Sumpah penasaran. Begitu pesan, ini ternyata semacam Batagor tapi daging diatasnya bukan ikan sebagaimana Batagor biasanya, tapi daging Babi. Bumbunya Kecap Mentega gitu, rasanya : Haleluya !

Tahu Goreng Babi

Rasanya enak bener, makan pake nasi atau tanpa nasi, sama sama enak, sama sama bikin nagih. Harganya ga mahal kok, sekitaran 15-20 ribu aja. Makan yuk? Ketemu disana?

Gelap-gelapan di Cloud 9
May 6, 2010

Baiklah, sebenarnya ada satu resto lagi, sebelum ini yang sudah pernah kami sambangi, cuma entah kenapa, yang bertugas untuk mereview resto tersebut, sampai sekarang kagak posting-posting. Huh! (lirik Wawan) . Dan itu udah lewat berbulan-bulan dari waktu kami menyambangi resto tersebut — sejak sebelum Imlek bok. Jadi ya sutralah, ke laut aja.

Nah, sekarang, gue sama Shasya pengen nyobain hidangan mengandung babi di satu tempat yang namanya Cloud 9, alamatnya berdasarkan bon yang kami terima sih Jl.Dagogiri no 119 Bandung (ph. 022-76334477). Jangan tanya arah ke sananya, ya? Soalnya yang nyetir bukan gue. 😀 Tanya Shasya saja.

Begitu ngeliat tempatnya pikiran gue sama Shasya sama, bangunan kayu-kayu mirip kayak rumah miring di Dufan. Dari luar kecil pula penampakan tempatnya.  Ternyata begitu masuk, ruangannya melebar ke bawah (eh? cutbrai dong. Ini bahasanya salah ya? Pokoknya ya gitulah, aslinya gede aja jadinya). Dan ohya, jangan lupa GELAP, penerangan cuma dari lilin-lilin dan beberapa lampu yang juga nggak terang-terang amat. Mungkin bermaksud ingin remang-remang romantis, tapi buat gue dan Shasya terlalu gelap.

Cloud9 menyediakan menu-menu Yurep macam-macam, beserta aneka beer. Gue dan Shasya yang emang niatnya ngebabi, nyari-nyari menu yang mengandung babi dong. Seingat gue sih ada 3 menu, 2 semacam pizza dan 1 English breakfast. Berhubung kita datengnya jelang malam, agak nggak kontekstual nggak sih kalo mesen English breakfast? Jadi aja, kita sih mesen Hawaiian Pizza, yang isinya ham, bacon, olive, nenas dst-dst nggak ingat.

Minumnya gue mesen Hot Green Tea tanpa gula, dan Shasya Iced Jasmine Apple Tea.

BTW, proses pemesanannya cukup lama, soalnya… gelap! Susah baca menunya! *Sya, ini mungkin emang masalah umur, soalnya yang lain keknya nggak bermasalah deh sama penerangan.haha*

Yang keluar duluan ya minumannya dong ya. Green Tea tawar sih ya gitu aja rasanya. Nah, minumannya Shasya nih, secara dia udah punya ekspektasi tinggi, ternyata dia harus kecewa, karena rasanya anyep (bahasa Jermannya sih Cawerang).

Hawaiian Pizza ala Cloud9

Tapi ke-anyep-an minuman Shasya termaafkan karena ternyata si pizza yang kita pesan enak. Pizza-nya mengingatkan kita antara pizza-nya warung Laos yang crispy, tapi nggak terlalu kering juga. Tapi topping-nya… enak! Babi banget. *yaeyalah*

Dan harga pesanan kami adalah :

Hawaiian pizza Medium Rp. 51.000

Hot Green Tea Rp. 13.000

Iced Jasmine Apple Tea Rp.21.000

PS. Udahnya ternyata kami masih merasa laper, jadinya kami pindah ke Legoh, bergabung dengan Senny, Nita, Anom dan bunda Endhoot dan Srimulatan dan ketawa2 nyaring di sana. Lain kali keknya kalo mampir ke tempat-tempat publik, masing-masing toa sama speaker-nya dilepeh dulu ya? :))

Telur Mata Babi di Puri Bambu
December 6, 2009

Minggu lalu saya diajak Okke dan Shasya untuk makan siang di Puri Bambu. Tempat ini sepertinya salah satu tempat yang menyediakan menu daging babi yang cukup terkenal di Bandung. Saya sering mendengar tempat ini dari teman-teman. Tapi saya sendiri tidak pernah ke sana karena agak enggan mengingat lokasinya di daerah Sukajadi yang cukup jauh dari kos saya di Cisitu.

Harga makanan di sini tidak terlalu mahal. Standar harga makanan dengan daging babi di Bandung ini. Tempatnya juga sangat bagus dan nyaman. Berbeda dengan tempat-tempat makan daging babi yang biasa saya datangi, tempat ini didesain lebih seperti kafe ketimbang restoran keluarga. Selain itu pilihan menu di sini sangat banyak baik makanan dan minuman membuat kami sangat lama memilih makanan 🙂 Buat Anda yang tidak terlalu mengerti Chinese Food, saya sangat sarankan untuk membawa teman yang mengerti. Sebelum Shasya tiba saya, Okke, dan Toto (yang diajak Okke) kebingungan membaca nama makanannya.

Samcan Panggang Kering

Kami memesan beberapa menu: Samcan Panggang Kering, Bakut Cabe Garam, dan Baby Kailan. Menurut saya Samcan Panggang Kering tidak terlalu berbeda dengan Babi Panggang Karo yang merupakan favorit saya. Hanya sausnya saja yang berbeda. Nah, kalau yang Bakut Cabe Garam ini rasanya benar-benar enak. Saya sangat suka bumbunya yang agak spicy dan sangat nikmat. Baby Kailannya juga mungkin yang paling enak dari semua masakan Baby Kailan yang pernah saya coba.

Bakut Cabe Garam

Sebelum memesan ketiga menu itu perhatian kami sempat tertuju ke sebuah menu dengan namanya yang sangat unik: Telur Mata Babi. Karena penasaran, awalnya saya ingin memesan ini untuk dibungkus. Tapi berhubung saya masih lapar akhirnya saya pesan ini juga. Entah kenapa makanan ini diberi nama seperti ini.  Saya rasa, sama seperti sapi, babi juga tidak bertelur.  Yang jelas makanan ini ada telur mata sapinya. Makanan ini sangat sederhana dengan daging babi cincang serta sayur asin yang melengkapi telur mata sapi. Saya baru pertama kali makan sayur asin, jadi menurut saya rasanya agak sedikit aneh. Tapi lumayan, kok.

Telur mata babi

Kapan-kapan makan di sini lagi ah.. Untuk yang ingin ke Puri Bambu, peta bisa dilihat di link ini.

Babi itu Buta! – Bagian 1
November 17, 2009

Ya, dalam bahasa Jepang, babi itu buta! Kata buta inilah salah satu dari beberapa kata yang saya hapal saat melakukan karya wisata ke Jepang. Saya tidak bisa berbahasa Jepang, jadi untuk memperlancar jalan-jalan tahu beberapa kata tentunya perlu. Kata lain yang saya hapal adalah tabe yang artinya makan. Teman saya yang orang Jepang bilang, saya menghapal kata yang tepat untuk bisa survive di Jepang.

Waktu yang singkat disana membuat saya memutuskan untuk mencoba makanan-makanan lokal dengan bahan babi setiap harinya. Paling nggak, satu kali dalam satu hari. Cuma tentunya saat makan suka hanyut sampai lupa untuk memberikan laporan.

Berikut ini adalah bagian 1 dari entah berapa tulisan singkat soal pengalaman saya makan babi di Jepang.

Buta shabu curry (Thin-sliced pork curry)

Ini nasi kari babi… belom pernah seumur-umur saya makan yang namanya kari tapi babi 😀 Diajak untuk makan siang sama temen-temen, yang sebenernya sudah sangat-sangat telat waktu itu, ditambah dengan hujan yang mulai turun. Waktu itu seingat saya sore2 yang sendu di Kyoto. Jadi makan yang panas-panas + pedas tentunya cocok. Rumah makan khusus kari Jepang bernama Curry House CoCo Ichibanya yang saya kunjungi ini terlihat modern, dengan warna-warni dan grafis menarik khas Jepang. Desain menunya kaya newsletter. (Sayang ngga saya poto! Lupa hehehe).

Makan kari di Jepang kita bisa memesan pedasnya sesuai selera kita. Kalau di sana istilahnya ada level kepedasannya. Level 1-10, level 1 paling ngga pedas sampai level 10 yang entah bagai neraka mungkin. Saya sendiri waktu pesan level 5 ngga boleh sama mbak2nya. Disaranin level 4 aja. Ya sudah akhirnya pesan buta shabu curry level 4. Oya, buta shabu curry ini berupa nasi dengan kari babi dimana daging babi dipotong tipis-tipis. Harga satu porsi buta shabu curry ini sendiri sekitar 60ribuan rupiah seingat saya. Memang susah cari harga yang bersahabat di sana 😀

Setelah menunggu sambil ngobrol2 dan memandangi hujan dari jendela, nasi kari babi itu datang.

Buta shabu curry

Porsinya ternyata lebih besar dari perkiraan, cuma nggak masalah sih buat saya. Dihidangkan di atas piring (tentunyaa) penyajiannya dibagi 2, satu sisi setengah lingkaran untuk nasi, setengahnya lagi si kari babi. Aromanya mirip kari India, cuma nggak terlalu kuat. Bumbu kari kental berwarna coklat, dan kalo menurut saya jadi seperti saus yang sangat banyak diatas nasi. Setelah saya coba, ternyata rasa rempah-rempahnya nggak sekuat kari India walaupun ‘rasa kari’nya tetap ada. (Apa coba? Hehehe). Awalnya agak ganjil juga makan kari dengan daging babi, tapi lama2 rasanya terbiasa. Dan yang level 4 pedasnya ternyata memang cukup pedas. Cocok buat sore2 hujan. Jadi bertanya-tanya kalo yg level 10 kaya apa ya?

Se’i Babi Cinta Setia
June 14, 2009

seporsi se'i babi cinta setia lengkap dengan tumis bunga pepaya

seporsi se'i babi cinta setia lengkap dengan tumis bunga pepaya

Se’i adalah salah satu makanan khas di daerah sini, daging olahan siap santap yang matang karena proses pengasapan, jadi sebenernya, se’i ini ya daging asap.

Alkisah *tsah* dahulu kala se’i secara eksklusif ditujukan untuk mengawetkan daging rusa.Lama kelamaan karena rusa makin sedikit populasinya , sehingga makin sulit pula untuk mendapat pasokan daging rusa segar sebagai bahan mentah se’i, orangpun mulai melirik daging sapi untuk dijadikan se’i dan beberapa tahun terakhir malahan daging babi.

Keberadaaan se’i babi mulai menggeser kepopuleran se’i sapi dan (apalagi ) se’i rusa di kota yang  penduduknya dihalalkan mengkonsumsi “sapi ceper” ini.

Cukup senang dengan pergeseran trend ini, karena mendukung konservasi populasi Cervus timorensis yg terancam punah. Lagi pula pernah nonton film Bambi kan? Ga tega kali ya kalo  membayangkan kelucuan Bambi sementara di hadapan kita tersaji seporsi  se’i rusa?

Sebagai permulaan cobalah mencicipi salah satu sajian se’i di kota ini, namanya Se’i Babi Cinta Setia.

Sepuluh ribu perak cukup untuk menebus seporsi Nasi se’i lengkap. Ini berarti seporsi nasi putih,sei babi dan sayur yang amat khas yaitu tumis bunga pepaya. Tambahan 5000 perak membuat kita mendapat semangkuk kecil sup brenabon hangat berkaldu daging babi yg gurih.

Daging se’i nya gurih dan empuk dengan aroma asap, garing di pinggirnya tapi masih juicy tengahnya.Tumis bunga pepayanya tidak terasa terlalu pahit, memang tidak hilang betul pahitnya tapi justeru sedikit nuansa pahit itu yang membuat nafsu makan bertambah dan sekaligus mengimbangi gurihnya potongan-potongan se’i. Teman setia se’i babi bertajuk cinta ini tentu saja sambal Lu’at. Sambal yang dibuat dengan mengulek  cabe rawit segar yang kecil yang super pedas dengan campuran garam dan jeruk asam, kadang diperkaya potongan paria mentah. Jadinya adalah sambal yang pedas dan asam yang sangat mudah membuat anda ketagihan.

Oya anda bisa menikmati Se’i Babi Cinta Setia di dekat jembatan Oesapa,kelurahan Oesapa,Kota Kupang,Nusa Tenggara Timur. Sebagai catatan kecil Oe itu dibacanya seperti “Owe” dalam kata bahasa jawa ” Kowe”. Oe secara sederhana diterjemahkan sebagai air dalam bahasa Indonesia.

The Hidden Menu (Menu Bisik-bisik?)
June 12, 2009

Menu PorkyPark Bandung Minggu Ini

Meeting point gue dan Shasya kali ini di Superindo Dago, karena Shasya mendengar gossip bahwa di jalan Trunojoyo ada rumah makan dengan menu Bacuk, alias Babi Cuka. Berhubung Shasya nggak bisa ngedapetin info terperinci di mana lokasinya, maka kami memutuskan untuk berburu babi bareng

Anyway, sesampainya di lokasi dan parkir di satu tempat, kami nggak menemukan tanda-tanda keberadaan Bacuk ini. Kami jalan ke sana ke mari sampai lelah dan kelaparan *berlebihan*, sang pemberi informasi sama sekali nggak bisa di telepon.

“Nanya aja gitu?” tanya saya.

“Ya udah nanya aja.” Kata Shasya.

“Nah, nanyanya ke siapa dan gimana?”

Iye, terdengar konyol, soalnya kita kan cuma mencari babi, bukan mencari-cari semacam, let’s say, ganja atau benda-benda illegal lainnya. Akhirnya Shasya pun nekad nanya ke salah seorang penjual risoles yang terdapat di halaman salah satu distro di sana.

“Bu, mau nanya… ehm… katanya di sekitar sini ada yang jual… babi cuka ya Bu?”

“Oh, itu.” Sang penjual menunjuk ke arah tempat… deket kita parkir mobil.

Halah.

Ya sud, kita masuk dong ke situ, ngintip-ngintip menu. Lho, kok nggak ada?

“Salah kali ya?” gitu pikir kita, tapi sialnya kita sudah keburu duduk dan tanpa sempat kabur lagi, seorang waiter menghampiri. Karena belum yakin bahwa ini tempat yang benar, kita bilang kita belum mau pesen, masih nunggu teman. Teman dari Hongkong. Anyway, gue sempet keluar sebentar untuk menilik lokasi, kali-kali aja ada rumah makan lain di sekitar situ. Nggak ada dong. Tapi pas gue balik ke meja, Shasya ternyata sudah berhasil menghubungi temannya dan bilang bahwa rumah makan yang kita sambangi sudah benar. Tapi emang menu yang kita cari nggak dimasukin ke dalam menu resmi rumah makan itu.

Oke deh.

Waitress kita panggil dan, dengan ragu-ragu kita nanya ‘Ngngng.. katanya di sini… ada menu babi cuka ya?”

Eh, mendadak sang waitress berbisik-bisik ‘Oh, iya… ada… tapi nggak kita masukin karena itu haidden menu kita. Soalnya kan nggak semua pengunjung di sini makan …begitu….”

Haiden. Katanya.
Kami nanya lagi, ada menu apa aja, selain babi cuka. Ada satu lagi menu, yaitu Babi rica-rica. Dan sebagai informasi, konversasi kami lakukan dengan bisik-bisik. Doh, Berasa mau transaksi apaaa gitu! Kami pesan dua-duanya.

Sambil nunggu pesanan sempat kepikir juga, kalau memang itu hidden menu dengan alasan ‘nggak semua pengunjung di sini makan begitu.’ Agak nggak sehat juga nggak sih, kalau kami muat alamat lengkapnya di sini? Dan kepikir lagi, untung aja tadi kita nggak sempat nanya-nanya ke SELURUH orang di sekitar situ. Kalo sempat, bakal jadi unhidden menu dooong. 😉

Anyway, pesanan datang. Menunya lebih mengarah ke makanan Menado gitu deh. Babi cuka yang bikin penasaran, ternyata potongan daging babi yang dipotong dan dilengkapi dengan saus berisi tomat, cabai dan mungkin cuka yang berasa asam pedas, hampir mirip dengan sambal dabu-dabu-nya Menado. Sementara babi rica-rica, ya gitu deh, potongan daging babi yang tertutupi dengan semacam sambal. Untuk Babi cuka, gurih dan crispy-nya potongan daging babi yang digoreng, edan banget dipadu dengan pedas asamnya si saus. Untuk Babi Rica-rica, pedasnya NAMPOL. Sampai meler-meler gitu (gue, bukan Shasya yang kayaknya lidahnya baal (kebal-red)).

Angka yang tertera di bill adalah Rp. 46.000 something, kurang lebih lah, dan menu yang kita pesan : 2 porsi nasi putih, 1 porsi babi cuka, 1 porsi babi rica-rica, satu es teh manis dan satu botol softdrink. Kalau dikira-kira, mungkin satu porsi perbabian itu sekitar lima belasan ribu sampai dua puluh ribu., nggak nyimak bener rincian di billnya, terlalu asyik ketawa-ketawa. Yang jelas kita naro tips di bawah bill buat waiternya dan Shasya sempat bilang ‘Gimana kalo kita samperin waitress yang tadi dan bilang ‘Mbak, ada haidden tips tuh’.

😛

Dari sana kita lanjut ke The Kiosk Dago, untuk ketemu anak-anak Batagor.net. Sampai di sana, ada yang nanya ‘Eh, tadi abis ngeporkypark ya?’

‘Lho kok tau?’ tanya saya.

‘Iya dari update status di FBnya Mbak Shasya.’

HALAH! Sempet ya, Ci!

Demi keamanan dan kenyamanan bersama, untuk yang pingin tahu lokasi tepat dan nama tempatnya, e-mail gue atau Shasya aja yah.

Ini dia, penampakan menu lebih detil *halah*

Babi Rica-rica

Babi Cuka, tapi sambal cuka-nya nggak kefoto.

Pokatiam. Atau Po Ka Tiam ?
June 4, 2009

Suasana di Restoran Po Ka Tiam, Jln Pasirkaliki, Bandung

Suasana di Restoran Po Ka Tiam, Jln Pasirkaliki, Bandung

Mengawali petualangan bersama di dunia kuliner yang cukup spesifik ini (maksudnya bukan dunia kulinernya yang spesifik, tapi pilihan kita-nya) *alah pake dijelasin lagi*, saya sama Okke bermain main ke sebuah tempat makan baru yang selalu penuh sampe tamunya tumpah ruah ke jalanan itu *berlebihan* biarin.

Sambil nunggu Okke, saya pesen minum teh tarikk dengan harapan yang diset ngga terlalu tinggi, eh taunya enak juga, hehe…. bisa lah jadi patokan teh tarikk  sih, mana harganya masuk di akal.

Namanya Pokatiam, jangan tanya apa artinya, saya ngga tau, apalagi si Okke. Tempatnya didekor lumayan lucu, gambar2 bernuansa kungfu dan babi bertebaran disana sini. Meja dan kursinya kayu2 berasa duduk di warung kayak di film2 silat gitulah. Perasaan langsung pengen pesen bapau, kayak pendekar2 film silat itu, hihi…

Sambil nunggu Okke dateng, saya mempelajari *taelah* menu yang ada di meja. Ga pake buku menu bagus kok, cuma kertas aja, jadi ga ada gambar2 makanannya which is memang ga perlu juga karena dapurnya aja terbuka lebar jadi kalo mau liat makanannya ya tinggal intip. Tau nih si Okke motret dapurnya ga dari jauh.

Tadinya udah sempet mau pesen mie car siu, itu lho, yamien yang diatasnya ditaburi daging merah, macam mie medan sana kali ya. Tapi kemudian ternyata banyak makanan yang kayaknya lebih menarik, salah satunya Bihun Bebek. Hmm…… kayaknya enak. Tapi tekad saya langsung bulat begitu denger pelayan teriak ke dapur, Samcan Goreng Cabe Garam satu, YANG KERING !!  waks waks, langsung panik. Jadi waktu Okke dateng, dia udah langsung setuju aja tuh. Makan kita hari itu juga ditemenin sama baby kailan cah garlic, nyummmm!!! baby kailan memang ga pernah gagal dimana-mana tempat.

Nah, si samcan dateng tuh. Biasanya kan makan samcan bareng nasi campur gitu ya, diiris tipis dan kecil2. Kalo ini, bentuknya GENDUT GENDUT ! yailah bikin panik! udah gitu kayaknya digoreng lagi setelah dipotong, jadi kriuk2 gitu sembari rasanya manis, surga dunia ! *berlebihan lagi* sebodo.

Kailannya ? one of the best I’ve ever had ! top abisss !!!

sok atuh Ke, terusin, hehehe…..

————–

Oke, gw ngelengkapin aja kali ya *males mikir*.

Sebenarnya pilihannya ada dua, Babi Cuka yang (katanya) di belakang St Aloysius, atau si Po Ka Tiam. Cuma akhirnya yang terpilih adalah Po Ka Tiam.  Restoran ini terletak di Jalan Pasirkaliki, Bandung, nomernya lupa, tapi letaknya tepat di sebelah Toko Sosis Pasirkaliki, deket-deket Chevy Radio juga (berseberangan)

Sumpah, gw datang dalam keadaan super duper laper, jadi begitu Shasya ngusulin untuk memesan Samcan Goreng Cabe Garam, oke aja lah. Anyway, gue penasaran sama artinya Samcan apaan. Setelah googling-googling, ternyata Samcan adalah pork belly.

Baiklah, akhirnya gw tau. 😀

Soal rasa, Shasya sudah cerita dengan lebaynya, ya, jadi ya sudah.

Oh ada tambahan lagi, salah satu waiternya bertampang mirip Irfan Hakim. Yuk mari. 😀

Ini dia foto pesanan kami. 🙂

Baby Kailan Cah Bawang Putih

Baby Kailan Cah Bawang Putih

Samcan Goreng Cabe Garam

Samcan Goreng Cabe Garam