Archive for the ‘resto’ Category

Gelap-gelapan di Cloud 9
May 6, 2010

Baiklah, sebenarnya ada satu resto lagi, sebelum ini yang sudah pernah kami sambangi, cuma entah kenapa, yang bertugas untuk mereview resto tersebut, sampai sekarang kagak posting-posting. Huh! (lirik Wawan) . Dan itu udah lewat berbulan-bulan dari waktu kami menyambangi resto tersebut — sejak sebelum Imlek bok. Jadi ya sutralah, ke laut aja.

Nah, sekarang, gue sama Shasya pengen nyobain hidangan mengandung babi di satu tempat yang namanya Cloud 9, alamatnya berdasarkan bon yang kami terima sih Jl.Dagogiri no 119 Bandung (ph. 022-76334477). Jangan tanya arah ke sananya, ya? Soalnya yang nyetir bukan gue. 😀 Tanya Shasya saja.

Begitu ngeliat tempatnya pikiran gue sama Shasya sama, bangunan kayu-kayu mirip kayak rumah miring di Dufan. Dari luar kecil pula penampakan tempatnya.  Ternyata begitu masuk, ruangannya melebar ke bawah (eh? cutbrai dong. Ini bahasanya salah ya? Pokoknya ya gitulah, aslinya gede aja jadinya). Dan ohya, jangan lupa GELAP, penerangan cuma dari lilin-lilin dan beberapa lampu yang juga nggak terang-terang amat. Mungkin bermaksud ingin remang-remang romantis, tapi buat gue dan Shasya terlalu gelap.

Cloud9 menyediakan menu-menu Yurep macam-macam, beserta aneka beer. Gue dan Shasya yang emang niatnya ngebabi, nyari-nyari menu yang mengandung babi dong. Seingat gue sih ada 3 menu, 2 semacam pizza dan 1 English breakfast. Berhubung kita datengnya jelang malam, agak nggak kontekstual nggak sih kalo mesen English breakfast? Jadi aja, kita sih mesen Hawaiian Pizza, yang isinya ham, bacon, olive, nenas dst-dst nggak ingat.

Minumnya gue mesen Hot Green Tea tanpa gula, dan Shasya Iced Jasmine Apple Tea.

BTW, proses pemesanannya cukup lama, soalnya… gelap! Susah baca menunya! *Sya, ini mungkin emang masalah umur, soalnya yang lain keknya nggak bermasalah deh sama penerangan.haha*

Yang keluar duluan ya minumannya dong ya. Green Tea tawar sih ya gitu aja rasanya. Nah, minumannya Shasya nih, secara dia udah punya ekspektasi tinggi, ternyata dia harus kecewa, karena rasanya anyep (bahasa Jermannya sih Cawerang).

Hawaiian Pizza ala Cloud9

Tapi ke-anyep-an minuman Shasya termaafkan karena ternyata si pizza yang kita pesan enak. Pizza-nya mengingatkan kita antara pizza-nya warung Laos yang crispy, tapi nggak terlalu kering juga. Tapi topping-nya… enak! Babi banget. *yaeyalah*

Dan harga pesanan kami adalah :

Hawaiian pizza Medium Rp. 51.000

Hot Green Tea Rp. 13.000

Iced Jasmine Apple Tea Rp.21.000

PS. Udahnya ternyata kami masih merasa laper, jadinya kami pindah ke Legoh, bergabung dengan Senny, Nita, Anom dan bunda Endhoot dan Srimulatan dan ketawa2 nyaring di sana. Lain kali keknya kalo mampir ke tempat-tempat publik, masing-masing toa sama speaker-nya dilepeh dulu ya? :))

Advertisements

Babi itu Buta! – Bagian 1
November 17, 2009

Ya, dalam bahasa Jepang, babi itu buta! Kata buta inilah salah satu dari beberapa kata yang saya hapal saat melakukan karya wisata ke Jepang. Saya tidak bisa berbahasa Jepang, jadi untuk memperlancar jalan-jalan tahu beberapa kata tentunya perlu. Kata lain yang saya hapal adalah tabe yang artinya makan. Teman saya yang orang Jepang bilang, saya menghapal kata yang tepat untuk bisa survive di Jepang.

Waktu yang singkat disana membuat saya memutuskan untuk mencoba makanan-makanan lokal dengan bahan babi setiap harinya. Paling nggak, satu kali dalam satu hari. Cuma tentunya saat makan suka hanyut sampai lupa untuk memberikan laporan.

Berikut ini adalah bagian 1 dari entah berapa tulisan singkat soal pengalaman saya makan babi di Jepang.

Buta shabu curry (Thin-sliced pork curry)

Ini nasi kari babi… belom pernah seumur-umur saya makan yang namanya kari tapi babi 😀 Diajak untuk makan siang sama temen-temen, yang sebenernya sudah sangat-sangat telat waktu itu, ditambah dengan hujan yang mulai turun. Waktu itu seingat saya sore2 yang sendu di Kyoto. Jadi makan yang panas-panas + pedas tentunya cocok. Rumah makan khusus kari Jepang bernama Curry House CoCo Ichibanya yang saya kunjungi ini terlihat modern, dengan warna-warni dan grafis menarik khas Jepang. Desain menunya kaya newsletter. (Sayang ngga saya poto! Lupa hehehe).

Makan kari di Jepang kita bisa memesan pedasnya sesuai selera kita. Kalau di sana istilahnya ada level kepedasannya. Level 1-10, level 1 paling ngga pedas sampai level 10 yang entah bagai neraka mungkin. Saya sendiri waktu pesan level 5 ngga boleh sama mbak2nya. Disaranin level 4 aja. Ya sudah akhirnya pesan buta shabu curry level 4. Oya, buta shabu curry ini berupa nasi dengan kari babi dimana daging babi dipotong tipis-tipis. Harga satu porsi buta shabu curry ini sendiri sekitar 60ribuan rupiah seingat saya. Memang susah cari harga yang bersahabat di sana 😀

Setelah menunggu sambil ngobrol2 dan memandangi hujan dari jendela, nasi kari babi itu datang.

Buta shabu curry

Porsinya ternyata lebih besar dari perkiraan, cuma nggak masalah sih buat saya. Dihidangkan di atas piring (tentunyaa) penyajiannya dibagi 2, satu sisi setengah lingkaran untuk nasi, setengahnya lagi si kari babi. Aromanya mirip kari India, cuma nggak terlalu kuat. Bumbu kari kental berwarna coklat, dan kalo menurut saya jadi seperti saus yang sangat banyak diatas nasi. Setelah saya coba, ternyata rasa rempah-rempahnya nggak sekuat kari India walaupun ‘rasa kari’nya tetap ada. (Apa coba? Hehehe). Awalnya agak ganjil juga makan kari dengan daging babi, tapi lama2 rasanya terbiasa. Dan yang level 4 pedasnya ternyata memang cukup pedas. Cocok buat sore2 hujan. Jadi bertanya-tanya kalo yg level 10 kaya apa ya?

The Hidden Menu (Menu Bisik-bisik?)
June 12, 2009

Menu PorkyPark Bandung Minggu Ini

Meeting point gue dan Shasya kali ini di Superindo Dago, karena Shasya mendengar gossip bahwa di jalan Trunojoyo ada rumah makan dengan menu Bacuk, alias Babi Cuka. Berhubung Shasya nggak bisa ngedapetin info terperinci di mana lokasinya, maka kami memutuskan untuk berburu babi bareng

Anyway, sesampainya di lokasi dan parkir di satu tempat, kami nggak menemukan tanda-tanda keberadaan Bacuk ini. Kami jalan ke sana ke mari sampai lelah dan kelaparan *berlebihan*, sang pemberi informasi sama sekali nggak bisa di telepon.

“Nanya aja gitu?” tanya saya.

“Ya udah nanya aja.” Kata Shasya.

“Nah, nanyanya ke siapa dan gimana?”

Iye, terdengar konyol, soalnya kita kan cuma mencari babi, bukan mencari-cari semacam, let’s say, ganja atau benda-benda illegal lainnya. Akhirnya Shasya pun nekad nanya ke salah seorang penjual risoles yang terdapat di halaman salah satu distro di sana.

“Bu, mau nanya… ehm… katanya di sekitar sini ada yang jual… babi cuka ya Bu?”

“Oh, itu.” Sang penjual menunjuk ke arah tempat… deket kita parkir mobil.

Halah.

Ya sud, kita masuk dong ke situ, ngintip-ngintip menu. Lho, kok nggak ada?

“Salah kali ya?” gitu pikir kita, tapi sialnya kita sudah keburu duduk dan tanpa sempat kabur lagi, seorang waiter menghampiri. Karena belum yakin bahwa ini tempat yang benar, kita bilang kita belum mau pesen, masih nunggu teman. Teman dari Hongkong. Anyway, gue sempet keluar sebentar untuk menilik lokasi, kali-kali aja ada rumah makan lain di sekitar situ. Nggak ada dong. Tapi pas gue balik ke meja, Shasya ternyata sudah berhasil menghubungi temannya dan bilang bahwa rumah makan yang kita sambangi sudah benar. Tapi emang menu yang kita cari nggak dimasukin ke dalam menu resmi rumah makan itu.

Oke deh.

Waitress kita panggil dan, dengan ragu-ragu kita nanya ‘Ngngng.. katanya di sini… ada menu babi cuka ya?”

Eh, mendadak sang waitress berbisik-bisik ‘Oh, iya… ada… tapi nggak kita masukin karena itu haidden menu kita. Soalnya kan nggak semua pengunjung di sini makan …begitu….”

Haiden. Katanya.
Kami nanya lagi, ada menu apa aja, selain babi cuka. Ada satu lagi menu, yaitu Babi rica-rica. Dan sebagai informasi, konversasi kami lakukan dengan bisik-bisik. Doh, Berasa mau transaksi apaaa gitu! Kami pesan dua-duanya.

Sambil nunggu pesanan sempat kepikir juga, kalau memang itu hidden menu dengan alasan ‘nggak semua pengunjung di sini makan begitu.’ Agak nggak sehat juga nggak sih, kalau kami muat alamat lengkapnya di sini? Dan kepikir lagi, untung aja tadi kita nggak sempat nanya-nanya ke SELURUH orang di sekitar situ. Kalo sempat, bakal jadi unhidden menu dooong. 😉

Anyway, pesanan datang. Menunya lebih mengarah ke makanan Menado gitu deh. Babi cuka yang bikin penasaran, ternyata potongan daging babi yang dipotong dan dilengkapi dengan saus berisi tomat, cabai dan mungkin cuka yang berasa asam pedas, hampir mirip dengan sambal dabu-dabu-nya Menado. Sementara babi rica-rica, ya gitu deh, potongan daging babi yang tertutupi dengan semacam sambal. Untuk Babi cuka, gurih dan crispy-nya potongan daging babi yang digoreng, edan banget dipadu dengan pedas asamnya si saus. Untuk Babi Rica-rica, pedasnya NAMPOL. Sampai meler-meler gitu (gue, bukan Shasya yang kayaknya lidahnya baal (kebal-red)).

Angka yang tertera di bill adalah Rp. 46.000 something, kurang lebih lah, dan menu yang kita pesan : 2 porsi nasi putih, 1 porsi babi cuka, 1 porsi babi rica-rica, satu es teh manis dan satu botol softdrink. Kalau dikira-kira, mungkin satu porsi perbabian itu sekitar lima belasan ribu sampai dua puluh ribu., nggak nyimak bener rincian di billnya, terlalu asyik ketawa-ketawa. Yang jelas kita naro tips di bawah bill buat waiternya dan Shasya sempat bilang ‘Gimana kalo kita samperin waitress yang tadi dan bilang ‘Mbak, ada haidden tips tuh’.

😛

Dari sana kita lanjut ke The Kiosk Dago, untuk ketemu anak-anak Batagor.net. Sampai di sana, ada yang nanya ‘Eh, tadi abis ngeporkypark ya?’

‘Lho kok tau?’ tanya saya.

‘Iya dari update status di FBnya Mbak Shasya.’

HALAH! Sempet ya, Ci!

Demi keamanan dan kenyamanan bersama, untuk yang pingin tahu lokasi tepat dan nama tempatnya, e-mail gue atau Shasya aja yah.

Ini dia, penampakan menu lebih detil *halah*

Babi Rica-rica

Babi Cuka, tapi sambal cuka-nya nggak kefoto.

Pokatiam. Atau Po Ka Tiam ?
June 4, 2009

Suasana di Restoran Po Ka Tiam, Jln Pasirkaliki, Bandung

Suasana di Restoran Po Ka Tiam, Jln Pasirkaliki, Bandung

Mengawali petualangan bersama di dunia kuliner yang cukup spesifik ini (maksudnya bukan dunia kulinernya yang spesifik, tapi pilihan kita-nya) *alah pake dijelasin lagi*, saya sama Okke bermain main ke sebuah tempat makan baru yang selalu penuh sampe tamunya tumpah ruah ke jalanan itu *berlebihan* biarin.

Sambil nunggu Okke, saya pesen minum teh tarikk dengan harapan yang diset ngga terlalu tinggi, eh taunya enak juga, hehe…. bisa lah jadi patokan teh tarikk  sih, mana harganya masuk di akal.

Namanya Pokatiam, jangan tanya apa artinya, saya ngga tau, apalagi si Okke. Tempatnya didekor lumayan lucu, gambar2 bernuansa kungfu dan babi bertebaran disana sini. Meja dan kursinya kayu2 berasa duduk di warung kayak di film2 silat gitulah. Perasaan langsung pengen pesen bapau, kayak pendekar2 film silat itu, hihi…

Sambil nunggu Okke dateng, saya mempelajari *taelah* menu yang ada di meja. Ga pake buku menu bagus kok, cuma kertas aja, jadi ga ada gambar2 makanannya which is memang ga perlu juga karena dapurnya aja terbuka lebar jadi kalo mau liat makanannya ya tinggal intip. Tau nih si Okke motret dapurnya ga dari jauh.

Tadinya udah sempet mau pesen mie car siu, itu lho, yamien yang diatasnya ditaburi daging merah, macam mie medan sana kali ya. Tapi kemudian ternyata banyak makanan yang kayaknya lebih menarik, salah satunya Bihun Bebek. Hmm…… kayaknya enak. Tapi tekad saya langsung bulat begitu denger pelayan teriak ke dapur, Samcan Goreng Cabe Garam satu, YANG KERING !!  waks waks, langsung panik. Jadi waktu Okke dateng, dia udah langsung setuju aja tuh. Makan kita hari itu juga ditemenin sama baby kailan cah garlic, nyummmm!!! baby kailan memang ga pernah gagal dimana-mana tempat.

Nah, si samcan dateng tuh. Biasanya kan makan samcan bareng nasi campur gitu ya, diiris tipis dan kecil2. Kalo ini, bentuknya GENDUT GENDUT ! yailah bikin panik! udah gitu kayaknya digoreng lagi setelah dipotong, jadi kriuk2 gitu sembari rasanya manis, surga dunia ! *berlebihan lagi* sebodo.

Kailannya ? one of the best I’ve ever had ! top abisss !!!

sok atuh Ke, terusin, hehehe…..

————–

Oke, gw ngelengkapin aja kali ya *males mikir*.

Sebenarnya pilihannya ada dua, Babi Cuka yang (katanya) di belakang St Aloysius, atau si Po Ka Tiam. Cuma akhirnya yang terpilih adalah Po Ka Tiam.  Restoran ini terletak di Jalan Pasirkaliki, Bandung, nomernya lupa, tapi letaknya tepat di sebelah Toko Sosis Pasirkaliki, deket-deket Chevy Radio juga (berseberangan)

Sumpah, gw datang dalam keadaan super duper laper, jadi begitu Shasya ngusulin untuk memesan Samcan Goreng Cabe Garam, oke aja lah. Anyway, gue penasaran sama artinya Samcan apaan. Setelah googling-googling, ternyata Samcan adalah pork belly.

Baiklah, akhirnya gw tau. 😀

Soal rasa, Shasya sudah cerita dengan lebaynya, ya, jadi ya sudah.

Oh ada tambahan lagi, salah satu waiternya bertampang mirip Irfan Hakim. Yuk mari. 😀

Ini dia foto pesanan kami. 🙂

Baby Kailan Cah Bawang Putih

Baby Kailan Cah Bawang Putih

Samcan Goreng Cabe Garam

Samcan Goreng Cabe Garam