Telur Mata Babi di Puri Bambu

December 6, 2009 - One Response

Minggu lalu saya diajak Okke dan Shasya untuk makan siang di Puri Bambu. Tempat ini sepertinya salah satu tempat yang menyediakan menu daging babi yang cukup terkenal di Bandung. Saya sering mendengar tempat ini dari teman-teman. Tapi saya sendiri tidak pernah ke sana karena agak enggan mengingat lokasinya di daerah Sukajadi yang cukup jauh dari kos saya di Cisitu.

Harga makanan di sini tidak terlalu mahal. Standar harga makanan dengan daging babi di Bandung ini. Tempatnya juga sangat bagus dan nyaman. Berbeda dengan tempat-tempat makan daging babi yang biasa saya datangi, tempat ini didesain lebih seperti kafe ketimbang restoran keluarga. Selain itu pilihan menu di sini sangat banyak baik makanan dan minuman membuat kami sangat lama memilih makanan :) Buat Anda yang tidak terlalu mengerti Chinese Food, saya sangat sarankan untuk membawa teman yang mengerti. Sebelum Shasya tiba saya, Okke, dan Toto (yang diajak Okke) kebingungan membaca nama makanannya.

Samcan Panggang Kering

Kami memesan beberapa menu: Samcan Panggang Kering, Bakut Cabe Garam, dan Baby Kailan. Menurut saya Samcan Panggang Kering tidak terlalu berbeda dengan Babi Panggang Karo yang merupakan favorit saya. Hanya sausnya saja yang berbeda. Nah, kalau yang Bakut Cabe Garam ini rasanya benar-benar enak. Saya sangat suka bumbunya yang agak spicy dan sangat nikmat. Baby Kailannya juga mungkin yang paling enak dari semua masakan Baby Kailan yang pernah saya coba.

Bakut Cabe Garam

Sebelum memesan ketiga menu itu perhatian kami sempat tertuju ke sebuah menu dengan namanya yang sangat unik: Telur Mata Babi. Karena penasaran, awalnya saya ingin memesan ini untuk dibungkus. Tapi berhubung saya masih lapar akhirnya saya pesan ini juga. Entah kenapa makanan ini diberi nama seperti ini.  Saya rasa, sama seperti sapi, babi juga tidak bertelur.  Yang jelas makanan ini ada telur mata sapinya. Makanan ini sangat sederhana dengan daging babi cincang serta sayur asin yang melengkapi telur mata sapi. Saya baru pertama kali makan sayur asin, jadi menurut saya rasanya agak sedikit aneh. Tapi lumayan, kok.

Telur mata babi

Kapan-kapan makan di sini lagi ah.. Untuk yang ingin ke Puri Bambu, peta bisa dilihat di link ini.

Babi itu Buta! – Bagian 1

November 17, 2009 - One Response

Ya, dalam bahasa Jepang, babi itu buta! Kata buta inilah salah satu dari beberapa kata yang saya hapal saat melakukan karya wisata ke Jepang. Saya tidak bisa berbahasa Jepang, jadi untuk memperlancar jalan-jalan tahu beberapa kata tentunya perlu. Kata lain yang saya hapal adalah tabe yang artinya makan. Teman saya yang orang Jepang bilang, saya menghapal kata yang tepat untuk bisa survive di Jepang.

Waktu yang singkat disana membuat saya memutuskan untuk mencoba makanan-makanan lokal dengan bahan babi setiap harinya. Paling nggak, satu kali dalam satu hari. Cuma tentunya saat makan suka hanyut sampai lupa untuk memberikan laporan.

Berikut ini adalah bagian 1 dari entah berapa tulisan singkat soal pengalaman saya makan babi di Jepang.

Buta shabu curry (Thin-sliced pork curry)

Ini nasi kari babi… belom pernah seumur-umur saya makan yang namanya kari tapi babi :D Diajak untuk makan siang sama temen-temen, yang sebenernya sudah sangat-sangat telat waktu itu, ditambah dengan hujan yang mulai turun. Waktu itu seingat saya sore2 yang sendu di Kyoto. Jadi makan yang panas-panas + pedas tentunya cocok. Rumah makan khusus kari Jepang bernama Curry House CoCo Ichibanya yang saya kunjungi ini terlihat modern, dengan warna-warni dan grafis menarik khas Jepang. Desain menunya kaya newsletter. (Sayang ngga saya poto! Lupa hehehe).

Makan kari di Jepang kita bisa memesan pedasnya sesuai selera kita. Kalau di sana istilahnya ada level kepedasannya. Level 1-10, level 1 paling ngga pedas sampai level 10 yang entah bagai neraka mungkin. Saya sendiri waktu pesan level 5 ngga boleh sama mbak2nya. Disaranin level 4 aja. Ya sudah akhirnya pesan buta shabu curry level 4. Oya, buta shabu curry ini berupa nasi dengan kari babi dimana daging babi dipotong tipis-tipis. Harga satu porsi buta shabu curry ini sendiri sekitar 60ribuan rupiah seingat saya. Memang susah cari harga yang bersahabat di sana :D

Setelah menunggu sambil ngobrol2 dan memandangi hujan dari jendela, nasi kari babi itu datang.

Buta shabu curry

Porsinya ternyata lebih besar dari perkiraan, cuma nggak masalah sih buat saya. Dihidangkan di atas piring (tentunyaa) penyajiannya dibagi 2, satu sisi setengah lingkaran untuk nasi, setengahnya lagi si kari babi. Aromanya mirip kari India, cuma nggak terlalu kuat. Bumbu kari kental berwarna coklat, dan kalo menurut saya jadi seperti saus yang sangat banyak diatas nasi. Setelah saya coba, ternyata rasa rempah-rempahnya nggak sekuat kari India walaupun ‘rasa kari’nya tetap ada. (Apa coba? Hehehe). Awalnya agak ganjil juga makan kari dengan daging babi, tapi lama2 rasanya terbiasa. Dan yang level 4 pedasnya ternyata memang cukup pedas. Cocok buat sore2 hujan. Jadi bertanya-tanya kalo yg level 10 kaya apa ya?

Panggang Madu Kaca Mata

October 9, 2009 - 4 Responses
menu lengkap KacaMata

menu lengkap KacaMata

Jangan tanya saya kenapa rumah makan ini namanya Kaca Mata. Menu utamanya sih tetep panggang babi, dengan spesialisasinya yang disiram madu. Membayangkan panggang babi disiram madu memang awalnya agak ragu, apa ga kemanisan ya. Tapi udahnya, nyemmm! enak banget.

Hari sabtu yang cerah itu, saya dan Okke yang dateng pake sepatu baru janjian ketemu disana. Pesanan hari itu agak minimalis mengingat menuunya daging-daging gitu. Kita pesen panggangan lengkap, dengan 2 nasi. Pesenan yang pas banget karena kalo masing-masing pesen porsi panggangan, pasti kebanyakan.

Saya sebetulnya nggak terlalu suka chasio alias daging merahnya. Saya selalu lebih menggemari samchan yang kriuk2 kering itu. Tapi di Kaca Mata, saya menemukan chasio yang paling enak yang pernah saya makan. Sumpah ini nggak berlebihan. Siraman madunya ternyata memberikan efek yang dahsyat bener.

Selain nasi dan panggangan, pesenan kita juga dilengkapi kuah kaldu yang dikasih sayur asin. Enak, netralisir daging manisnya.

Kalo soal minuman, sayangnya nggak terlalu banyak pilihan. Beberapa macam soft drink saja yang ada, itu juga kebanyakan nggak adanya, hehe. Tapi demi makanannya, minuman jadi agak ga terlalu penting juga sih.

panggangan lengkap

panggangan lengkap

menu yang bikin pengen balik lagi

menu yang bikin pengen balik lagi

Kalo ngga salah, makan hari itu ngabisin sekitar 80ribuan deh. cukup worth it, mengingat makanannya enak banget. Buat yang pengen coba, maen deh ke Paskal Hyper Square, tapi bukan di bagian food court ya, adanya di ruko, persis depan food court nya sih.

Dendeng Babi Sohor Itu

September 3, 2009 - 3 Responses

Sebelum pergi ke Singapore & Kuala Lumpur kemaren, keluarga saya cuma titip satu pesan, dendeng babi. Oh iya deh dua, sama ati2 katanya :P

Dendeng babi ini memang tenar banget ceritanya. Sampe di Jakarta aja dikenal dengan nama dendeng babi Singapore.  Di Singapore sendiri, dia punya counter di beberapa mall besar. Dan ternyata ada juga di airport Changi. Jadi buat yang pengen beli, ga usah repot2 beli di mall, nanti aja pas mau pulang belinya :)

Dendengnya memang ga cuma babi aja, tapi ada juga yang ayam dan sapi. Bentuknya pun ga semua rada kotak2 seperti dendeng sapi yang umum itu. Ada yang dibentuk bulat seperti koin, ada juga yang bentuknya ga beraturan, tapi justru paling menarik. Si dendeng ga beraturan itu, termasuk fat atau lemak babinya. Awww!, the best part ! Dan orang sana memang tau aja yang enak ya, harganya lebih mahal lho. Padahal kalo beli smoked pork disini, yang mengandung fat itu selalu dihargai lebih murah.

Dendeng Babi dengan FatDendeng Babi dengan Fat

Dan mereka juga jual plastikan dendeng campur, jadi kalo disini kayak tetelan kali ya, sisa2 potongan daging. Kualitas dagingnya sih sama tapi bentuk dan ukurannya aja ngga beraturan, harganya sedikit lebih murah karena juga dicampur dengan sapi dan ayam.

PIC441

Asyiknya, mereka juga jual dendeng babi yang dilapis keju. Dibungkus satu2 kayak permen. Katanya, itu cocok buat penganan sambil minum teh. Aduh sebenernya ngga kebayang aja sih nyemil daging babi yah. Tapi saya nyobain nih, meski bukan yang lapis keju. Disini sih ganjel perut dan nyemil pake dendeng babi, kalo di ‘rumah’ kan bala2, hehehe.

Asyik Makan Dendeng :PAsyik Makan Dendeng :P

Membabi di Chinatown

August 26, 2009 - Leave a Response

Sekarang kita ke Chinatown di Kuala Lumpur. Katanya sih ada 2 chinatown di Kuala Lumpur ini. Yang saya datengin, ada di Jalan Petaling, yang satunya lagi ga tau dimana *buka peta* Waktu saya mampir kesana pagi hari, masih sepi aja, nyaris nggak ada tanda kehidupan. Tapi waktu saya kesana malem, wah gila, rame banget! Kiri kanan banyak bener yang jualan. Hampir segala macem ada ; baju, tas, sepatu, selendang, souvenir, ah pokoknya semua ada.

Yang jualan makanan juga ada, dari minuman Air Mata Kucing yang juga ada di Giant Pasteur Bandung itu, ada juga kacang berangan alias chestnut yang menggoda banget, pengen nyoba ! Akhirnya kita nyoba dan pas mau pulang sempet beli lagi. Enak sih :) . Selain itu ada juga makanan ringan kayak kue kue cina jaman dulu ; cikak, kue mangkok dll. Ada juga yang jual bacang. Eh bacang disana, bungkusnya ga serapi bacang disini lho! *penting*

chestnutchestnut

tempat masak chestnut-nyatempat masak chestnut-nya

Nyaris di ujung chinatown, ada satu area yang dipakai buat makan. Jadi yang jualnya menggelar meja2 bulat bertaplak merah untuk tempat makan. Mayoritas yang duduk disitu, bule, soalnya selain tempat makan, tempat ini juga dipakai buat mereka nongkrong2 dan minum bir.

Setelah bolak balik, akhirnya dapet meja juga, langsung pesan lantaran udah laper banget. Yang jadi pilihan malem itu, Pepper Pork Ribs. Bayanginnya aja udah ngacai2. Pilihan sayurnya seperti biasa, baby kailan

menunyamenunya

baby kailanbaby kailan

pepper ribs porkpepper pork ribs

Oh, dan rasanya, biasa2 aja. Harganya lumayan mahal juga, kali karena tamunya banyak bule tea. Tapi suasananya, chinatown banget. Selama kita makan, ada pengamen yang terdiri dari satu keluarga, seorang ayah yang nyaris tua, dengan satu anak perempuan remaja dan satu anak laki2 yang masih lumayan kecil. Bertiga mereka nyanyi Hotel California, Honky Tonk Woman, dll. Yeah, they know their audiences :) Sembari liat mereka nyanyi, saya sadar, iya, cari uang memang ngga gampang ya.

Wew, this supposed t be a food review ya, ya maap, hehehe….

Pork Bibimbab

August 24, 2009 - 2 Responses

Ini menu korea yang saya temuin di Food Republic,  Suntec City, Singapore. Kalo disini kan makanan korea rata2 sapi atau ayam ya, paling banter kali udang. Tapi di Singapore, ada babinya, huhuhy!! *panik*

Judulnya Bibimbab, istimewa nya, disajikan di mangkok tahan panas, jadi makanannya panas terus. Yap, panas sampe mau makan aja susah :) .

Isinya sih nasi, daging babi pedes, wortel, timun, bawang bombay. Yang bikin wah, ada kuning telur yang dimasukin mentah ke dalam mangkok nasinya. Saking panasnya, si kuning telur itu sampe mateng aja loh. Sebagai pelengkap, ada kimchi -kesukaan saya-  dan soup. Kalo soupnya sih biasa aja, rasanya tawar banget, kali untuk mengimbangi rasa nasinya yang cukup tajem.

Soal harga, masih sama-lah dengan foodcourt2 di Jakarta, S$6.50, alias kira2 45ribuan. Cukup worth it dengan porsi dan rasanya.

makan-enak-makan-enak

makan-enak-makan-enak

Pork Bibimbab

Pork Bibimbab

ada rumput lautnya

ada rumput lautnya

Royalnya Rumah Makan Makmur.

August 20, 2009 - 3 Responses
Daftar Menu

Daftar Menu

Oke, ini stok lama, waktu gue menyambangi Yogyakarta dan seputarnya bulan lalu. Cuma males nulisnya. *penyakit*.

Hal pertama yang kepikir begitu turun dari kereta adalah mencicipi perbabian di Yogya, buat ngisi blog porkypark ini. Niat. Setelah putar-putar dengan motor pinjaman tak tentu arah, akhirnya berhentilah kami (gue dan partner) di sebuah rumah makan Cina yang namanya Rumah Makan Makmur, Jln. Jogonegaran no.6. Jogja, tentyunya.

Pas cek-cek menu, nggak ada menu ajaib. Biasa aja, macam  menunya, standar rumah makan Cina biasa. Akhirnya pilih punya pilih, jatuhlah pilihan pada Babi Goreng Tepung dan Capcay. Babi goreng tepung, ya babi yang digoreng setelah dibalur tepung bumbu dan dimakan dengan semacam saus tomat, kalau Capcay, ya gitu deh. Melihat harganya yang belasan ribu, kepikirnya pasti porsinya kecil. Tapi kita nggak mesen banyak, karena sebenernya partner sudah dalam masa pra-pensiun makan daging. Dia memutuskan untuk memamah sedikit aja dari jatah sayur-sayuran dalam Capcay gue. Baiklah.

Begitu pesanan datang, ternyata porsinya banyak aja dong! Terutama Capcaynya ya, bisa kali dimakan buat berempat. Dan, kalo biasanya capcay-capcay yang gue temui itu seringnya isinya banyakan sayurnya dibandingin dengan daging-dagingnya, ini rada-rada kebalik.

Babi Goreng Tepung dan Capcay yang biasa banget

Babi Goreng Tepung dan Capcay yang biasa banget

Kalau melihat harganya, gue penasaran, nggak rugi apa itu rumah makan? Eh,tapi di Jogja sih, makanan pada murah-murah ye. Dengan 5000-an aja udah bisa makan makanan warteg lengkap plus es teh manis.

Anyway, soal rasa, ternyata biasa aja. Cenderung tawar, malah. Kenyang sih. Kenyang BANGET malah, tapi gitu deh, nggak berkesan. *gaya*

Hehe, maab-maab ya, yang punya rumah makan Makmur. :D

Mie Rica Rica Kejaksaan

August 4, 2009 - 2 Responses

Berita baiknya adalah si Mie Rica Rica Kejaksaan ini buka cabang di Paskal Hyper Square. Berita baik lainnya adalah, tempatnya bukan di foodcourt nya dimana banyak berseliweran manusia manusia yang membuat kita selilng mengernyitkan dahi dan bertanya dalam hati “ya ampun mau kemana sih Neng”. jadi si Mie Rica Rica Kejaksaan ini adanya di ruko, ga kagok2, 2 ruko sekaligus. Ga sempet catet alamat ruko, maap. Cari aja sendiri ya, ga susah kok.

Begitu duduk disodoorin menu *standar yah dimana2 juga gitu*. Menu jagoannya ya tetep Mie Rica ya, yang langsung dipesan sama Okke, pilihannya bisa sama babat, baso sapi, dan pangsit kuah. Malam itu babat jadi pilihannya Okke. Saya mencari tantangan lebih dari sekedar pedesnya rica2 itu. Mie pedas pake cha siew alias daging merah jadi pilihan, juga tergiur dengan udang gorengnya yang huhuy itu. Jadilah pesanan saya, ditambah udang goreng. Udangnya enak banget, sumpah. Tadinya mau pesen lagi, tapi ga bisa sedikit, harus seporsi dan harganya Rp. 30.000 aja. jadi tips ya, laen kali kalo kesitu, pesen mie langsung minta tambah udangnya :) , jadi ga usah beli seporsi.

Mie rica-rica nya ternyata ada 2 macem, yang ga gitu suka pedes, bisa pesen rica yang ga pedes, enak juga kok. Warna dagingnya putih.. Rasanya sih enak juga kok (saya coba waktu kali kedua kesitu, beberapa hari kemudian., hehe)

MIe yangn saya makan, haduh ngajak berantem! Pedes abis bok ! Saya aja yang kata Okke udah baal (mati rasa ) sama yang namanya pedas, dibuat tidak berdaya *halah* sama pedesnya mie itu. Tapi ga akan kapok kok, enak banget!!!.

Minuman sih standar ya, ada es cingcau, sarsaparilla, macem2 soft drink, dll. Dari harga juga masih lumayan bersahaabat. Oya, selain mie, dia juga jual bapau lho. Bapaunya tergolong murah, cuma Rp. 5000 aja tapi enaak. Ada juga yang isi tausa alias kacang hitam, bisalah jadi pilihan sambil nunggu pesanan datang (baca : gembul).

Total bon hari itu, Rp. 84.000, untuk masing2 pesanan saya *yang ekstra udangn itu), pesanan Okke, 2 coca cola, 1 cingcau hitam, 3 bapau yang saya bawa pulang (beneran! ga saya makan disana kok!). Mie standar per porsi, Rp. 18.000, quite worth it. saya banyak nemu mie yanng harganya lebih dari segitu tapi rasanya ga seistimewa ini :)

Jangan lupa, kalo kesana ajak2 kita ya :P

Pesanan Malam Itu

Pesanan Malam Itu

Mie Cha Siew ekstra Udang Goreng

Mie Cha Siew ekstra Udang Goreng

Mie Rica Rica

Mie Rica Rica

Se’i Babi Cinta Setia

June 14, 2009 - 4 Responses
seporsi se'i babi cinta setia lengkap dengan tumis bunga pepaya

seporsi se'i babi cinta setia lengkap dengan tumis bunga pepaya

Se’i adalah salah satu makanan khas di daerah sini, daging olahan siap santap yang matang karena proses pengasapan, jadi sebenernya, se’i ini ya daging asap.

Alkisah *tsah* dahulu kala se’i secara eksklusif ditujukan untuk mengawetkan daging rusa.Lama kelamaan karena rusa makin sedikit populasinya , sehingga makin sulit pula untuk mendapat pasokan daging rusa segar sebagai bahan mentah se’i, orangpun mulai melirik daging sapi untuk dijadikan se’i dan beberapa tahun terakhir malahan daging babi.

Keberadaaan se’i babi mulai menggeser kepopuleran se’i sapi dan (apalagi ) se’i rusa di kota yang  penduduknya dihalalkan mengkonsumsi “sapi ceper” ini.

Cukup senang dengan pergeseran trend ini, karena mendukung konservasi populasi Cervus timorensis yg terancam punah. Lagi pula pernah nonton film Bambi kan? Ga tega kali ya kalo  membayangkan kelucuan Bambi sementara di hadapan kita tersaji seporsi  se’i rusa?

Sebagai permulaan cobalah mencicipi salah satu sajian se’i di kota ini, namanya Se’i Babi Cinta Setia.

Sepuluh ribu perak cukup untuk menebus seporsi Nasi se’i lengkap. Ini berarti seporsi nasi putih,sei babi dan sayur yang amat khas yaitu tumis bunga pepaya. Tambahan 5000 perak membuat kita mendapat semangkuk kecil sup brenabon hangat berkaldu daging babi yg gurih.

Daging se’i nya gurih dan empuk dengan aroma asap, garing di pinggirnya tapi masih juicy tengahnya.Tumis bunga pepayanya tidak terasa terlalu pahit, memang tidak hilang betul pahitnya tapi justeru sedikit nuansa pahit itu yang membuat nafsu makan bertambah dan sekaligus mengimbangi gurihnya potongan-potongan se’i. Teman setia se’i babi bertajuk cinta ini tentu saja sambal Lu’at. Sambal yang dibuat dengan mengulek  cabe rawit segar yang kecil yang super pedas dengan campuran garam dan jeruk asam, kadang diperkaya potongan paria mentah. Jadinya adalah sambal yang pedas dan asam yang sangat mudah membuat anda ketagihan.

Oya anda bisa menikmati Se’i Babi Cinta Setia di dekat jembatan Oesapa,kelurahan Oesapa,Kota Kupang,Nusa Tenggara Timur. Sebagai catatan kecil Oe itu dibacanya seperti “Owe” dalam kata bahasa jawa ” Kowe”. Oe secara sederhana diterjemahkan sebagai air dalam bahasa Indonesia.

The Hidden Menu (Menu Bisik-bisik?)

June 12, 2009 - 8 Responses

Menu PorkyPark Bandung Minggu Ini

Meeting point gue dan Shasya kali ini di Superindo Dago, karena Shasya mendengar gossip bahwa di jalan Trunojoyo ada rumah makan dengan menu Bacuk, alias Babi Cuka. Berhubung Shasya nggak bisa ngedapetin info terperinci di mana lokasinya, maka kami memutuskan untuk berburu babi bareng

Anyway, sesampainya di lokasi dan parkir di satu tempat, kami nggak menemukan tanda-tanda keberadaan Bacuk ini. Kami jalan ke sana ke mari sampai lelah dan kelaparan *berlebihan*, sang pemberi informasi sama sekali nggak bisa di telepon.

“Nanya aja gitu?” tanya saya.

“Ya udah nanya aja.” Kata Shasya.

“Nah, nanyanya ke siapa dan gimana?”

Iye, terdengar konyol, soalnya kita kan cuma mencari babi, bukan mencari-cari semacam, let’s say, ganja atau benda-benda illegal lainnya. Akhirnya Shasya pun nekad nanya ke salah seorang penjual risoles yang terdapat di halaman salah satu distro di sana.

“Bu, mau nanya… ehm… katanya di sekitar sini ada yang jual… babi cuka ya Bu?”

“Oh, itu.” Sang penjual menunjuk ke arah tempat… deket kita parkir mobil.

Halah.

Ya sud, kita masuk dong ke situ, ngintip-ngintip menu. Lho, kok nggak ada?

“Salah kali ya?” gitu pikir kita, tapi sialnya kita sudah keburu duduk dan tanpa sempat kabur lagi, seorang waiter menghampiri. Karena belum yakin bahwa ini tempat yang benar, kita bilang kita belum mau pesen, masih nunggu teman. Teman dari Hongkong. Anyway, gue sempet keluar sebentar untuk menilik lokasi, kali-kali aja ada rumah makan lain di sekitar situ. Nggak ada dong. Tapi pas gue balik ke meja, Shasya ternyata sudah berhasil menghubungi temannya dan bilang bahwa rumah makan yang kita sambangi sudah benar. Tapi emang menu yang kita cari nggak dimasukin ke dalam menu resmi rumah makan itu.

Oke deh.

Waitress kita panggil dan, dengan ragu-ragu kita nanya ‘Ngngng.. katanya di sini… ada menu babi cuka ya?”

Eh, mendadak sang waitress berbisik-bisik ‘Oh, iya… ada… tapi nggak kita masukin karena itu haidden menu kita. Soalnya kan nggak semua pengunjung di sini makan …begitu….”

Haiden. Katanya.
Kami nanya lagi, ada menu apa aja, selain babi cuka. Ada satu lagi menu, yaitu Babi rica-rica. Dan sebagai informasi, konversasi kami lakukan dengan bisik-bisik. Doh, Berasa mau transaksi apaaa gitu! Kami pesan dua-duanya.

Sambil nunggu pesanan sempat kepikir juga, kalau memang itu hidden menu dengan alasan ‘nggak semua pengunjung di sini makan begitu.’ Agak nggak sehat juga nggak sih, kalau kami muat alamat lengkapnya di sini? Dan kepikir lagi, untung aja tadi kita nggak sempat nanya-nanya ke SELURUH orang di sekitar situ. Kalo sempat, bakal jadi unhidden menu dooong. ;-)

Anyway, pesanan datang. Menunya lebih mengarah ke makanan Menado gitu deh. Babi cuka yang bikin penasaran, ternyata potongan daging babi yang dipotong dan dilengkapi dengan saus berisi tomat, cabai dan mungkin cuka yang berasa asam pedas, hampir mirip dengan sambal dabu-dabu-nya Menado. Sementara babi rica-rica, ya gitu deh, potongan daging babi yang tertutupi dengan semacam sambal. Untuk Babi cuka, gurih dan crispy-nya potongan daging babi yang digoreng, edan banget dipadu dengan pedas asamnya si saus. Untuk Babi Rica-rica, pedasnya NAMPOL. Sampai meler-meler gitu (gue, bukan Shasya yang kayaknya lidahnya baal (kebal-red)).

Angka yang tertera di bill adalah Rp. 46.000 something, kurang lebih lah, dan menu yang kita pesan : 2 porsi nasi putih, 1 porsi babi cuka, 1 porsi babi rica-rica, satu es teh manis dan satu botol softdrink. Kalau dikira-kira, mungkin satu porsi perbabian itu sekitar lima belasan ribu sampai dua puluh ribu., nggak nyimak bener rincian di billnya, terlalu asyik ketawa-ketawa. Yang jelas kita naro tips di bawah bill buat waiternya dan Shasya sempat bilang ‘Gimana kalo kita samperin waitress yang tadi dan bilang ‘Mbak, ada haidden tips tuh’.

:P

Dari sana kita lanjut ke The Kiosk Dago, untuk ketemu anak-anak Batagor.net. Sampai di sana, ada yang nanya ‘Eh, tadi abis ngeporkypark ya?’

‘Lho kok tau?’ tanya saya.

‘Iya dari update status di FBnya Mbak Shasya.’

HALAH! Sempet ya, Ci!

Demi keamanan dan kenyamanan bersama, untuk yang pingin tahu lokasi tepat dan nama tempatnya, e-mail gue atau Shasya aja yah.

Ini dia, penampakan menu lebih detil *halah*

Babi Rica-rica

Babi Cuka, tapi sambal cuka-nya nggak kefoto.